Universitas Diponegoro (UNDIP) mempertahankan posisinya sebagai perguruan tinggi peringkat kedua nasional sekaligus masuk 20 besar dunia dalam UI GreenMetric Sustainable University Rankings 2026. Capaian ini menempatkan pengelolaan kampus berkelanjutan sebagai salah satu indikator penting dalam menilai kinerja perguruan tinggi.
Pemeringkatan UI GreenMetric 2026 melibatkan 2.016 institusi dari 110 negara. Hasil global diumumkan pada 24 September 2026, setelah pengumuman tingkat Indonesia yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 September 2026.
Bagi UNDIP, posisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan reputasi institusi. Pemeringkatan ini mencerminkan berbagai upaya dalam mengelola lingkungan kampus, mengembangkan energi yang lebih bersih, memperkuat pendidikan dan penelitian, serta memanfaatkan teknologi untuk memantau indikator keberlanjutan.
Tujuh aspek penilaian UI GreenMetric 2026
UI GreenMetric Sustainable University Rankings menilai keberlanjutan perguruan tinggi melalui tujuh aspek. Kerangka penilaian tersebut memberikan gambaran yang lebih luas mengenai cara kampus merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi kebijakan lingkungan.
- Penataan dan infrastruktur, yang berkaitan dengan pengembangan lingkungan fisik kampus dan dukungan fasilitas terhadap keberlanjutan.
- Energi dan perubahan iklim, termasuk upaya mengurangi penggunaan energi serta merespons dampak perubahan iklim.
- Pengelolaan sampah, meliputi pengurangan, pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali sampah.
- Pengelolaan air, termasuk efisiensi penggunaan dan pengembangan sistem pemanfaatan air yang berkelanjutan.
- Transportasi, yang menilai dukungan kampus terhadap mobilitas yang lebih ramah lingkungan.
- Pendidikan dan penelitian, terutama kontribusi akademik terhadap pengetahuan dan solusi keberlanjutan.
- Tata kelola dan digitalisasi, yang mencakup pengelolaan kelembagaan serta pemanfaatan data dan teknologi.
Ketujuh aspek tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan perguruan tinggi tidak dapat diukur hanya dari keberadaan ruang terbuka hijau atau program kebersihan. Pengelolaan energi, air, sampah, transportasi, kegiatan akademik, dan tata kelola perlu berjalan sebagai satu sistem yang saling mendukung.
Program pengelolaan sampah menjadi bagian penting
Salah satu bagian dari upaya keberlanjutan UNDIP adalah pengelolaan sampah berbasis prinsip 5R. Pendekatan ini menekankan pengurangan sampah dari sumbernya, penggunaan kembali material, serta pengolahan sampah agar tidak seluruhnya berakhir sebagai residu.
UNDIP juga mengembangkan tempat pengolahan sampah terpadu. Fasilitas tersebut mendukung proses pemilahan dan pengolahan sampah sesuai karakteristiknya. Dengan pengelolaan yang lebih terarah, sampah organik maupun anorganik dapat ditangani melalui metode yang berbeda dan memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.
Dalam pengolahan sampah organik, program UNDIP mencakup pemanfaatan kompos dan budidaya maggot. Kompos dapat digunakan kembali untuk mendukung kebutuhan pengelolaan lingkungan, sedangkan maggot dimanfaatkan sebagai bagian dari pengolahan bahan organik. Langkah ini memperkuat prinsip ekonomi sirkular karena material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan.
Selain itu, UNDIP memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengolah limbah tertentu. Teknologi tersebut menjadi bagian dari pilihan pengelolaan limbah yang dapat mengurangi beban pembuangan sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil pengolahan. Penerapannya menunjukkan bahwa penanganan sampah di lingkungan kampus membutuhkan kombinasi antara perubahan perilaku, fasilitas, dan teknologi.
Pengelolaan air dan energi terbarukan
Aspek keberlanjutan lain yang dikembangkan UNDIP adalah pengelolaan air berbasis ekonomi sirkular. Pendekatan ini mendorong penggunaan kembali air dan pengelolaan sumber daya secara lebih efisien. Air tidak semata-mata dipandang sebagai sumber daya yang digunakan lalu dibuang, tetapi juga sebagai bagian dari sistem yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Penerapan penggunaan kembali air menjadi salah satu contoh bagaimana kebijakan kampus dapat diarahkan untuk mengurangi pemborosan sumber daya. Upaya tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk membangun infrastruktur yang mampu menghadapi tekanan lingkungan dan pertumbuhan aktivitas akademik.
Di bidang energi, UNDIP mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya. Kehadiran panel surya mendukung diversifikasi sumber energi dan menjadi bagian dari respons terhadap isu perubahan iklim. Program ini juga dapat memperkuat fungsi kampus sebagai ruang pembelajaran mengenai teknologi energi bersih.
Internet of Things mendukung pemantauan keberlanjutan
Pengelolaan kampus berkelanjutan membutuhkan data yang dapat dipantau secara berkala. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, UNDIP memanfaatkan Internet of Things (IoT) dalam pemantauan indikator keberlanjutan.
Pemantauan berbasis IoT memungkinkan informasi terkait sejumlah indikator lingkungan dikumpulkan secara lebih sistematis. Data tersebut dapat membantu pengelola kampus melihat kondisi, mengevaluasi program, dan menentukan perbaikan yang diperlukan. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap administrasi, tetapi juga menjadi instrumen dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan berbasis data penting karena keberlanjutan perlu diukur melalui kinerja yang dapat dievaluasi. Pengurangan sampah, penggunaan energi, pemanfaatan air, dan pengembangan fasilitas tidak cukup hanya dilaporkan sebagai kegiatan. Seluruhnya perlu ditempatkan dalam proses pengelolaan yang berkelanjutan dan dapat dipantau dari waktu ke waktu.
Makna capaian bagi pengelolaan perguruan tinggi
Masuknya UNDIP ke 20 besar dunia UI GreenMetric 2026 memberikan gambaran mengenai posisi perguruan tinggi Indonesia dalam agenda keberlanjutan global. Namun, makna capaian tersebut lebih luas daripada peringkat. Hasil pemeringkatan dapat menjadi bahan untuk melihat sejauh mana kebijakan lingkungan telah diterapkan dalam kegiatan kampus sehari-hari.
Bagi warga kampus, keberlanjutan dapat diwujudkan melalui kebiasaan dan partisipasi dalam pengelolaan lingkungan. Pemilahan sampah, pengurangan penggunaan material sekali pakai, efisiensi energi dan air, serta penggunaan fasilitas transportasi yang lebih ramah lingkungan merupakan bagian dari ekosistem tersebut.
Di sisi lain, pendidikan dan penelitian memiliki peran untuk memperluas dampak program keberlanjutan. Isu sampah, energi, air, perubahan iklim, dan digitalisasi dapat dikembangkan menjadi tema pembelajaran maupun penelitian lintas disiplin. Hasilnya diharapkan tidak hanya berguna bagi lingkungan kampus, tetapi juga relevan untuk menjawab persoalan masyarakat.
Dengan melibatkan 2.016 institusi dari 110 negara, UI GreenMetric 2026 menyediakan konteks global untuk menilai keberlanjutan perguruan tinggi. Posisi UNDIP sebagai peringkat kedua nasional dan salah satu dari 20 besar dunia menjadi catatan penting, sekaligus pengingat bahwa program keberlanjutan perlu dijaga kesinambungannya.
Ke depan, capaian tersebut dapat menjadi dasar untuk memperkuat evaluasi dan pengembangan program kampus berkelanjutan. Keberhasilan tidak berhenti pada pengumuman peringkat, tetapi terlihat dari konsistensi pengelolaan sumber daya, kualitas kebijakan, keterlibatan warga kampus, serta kemampuan institusi menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
