Bandung Raya dan Kabupaten Sumedang menjadi kawasan pelaksanaan KKN Tematik “Sampah Tuntas” dalam program Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi (GRADASI). Program yang diperkuat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut diproyeksikan melibatkan 25.529 mahasiswa dari 90 perguruan tinggi swasta.
Penyamaan persepsi pelaksanaan program dilakukan oleh LLDIKTI Wilayah IV pada 30 September 2026. Kegiatan ini berfokus pada upaya memilah sampah sejak dari rumah dan memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Pelaksanaan KKN mencakup 56 kecamatan di lima kabupaten/kota, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat.
Melalui KKN Tematik “Sampah Tuntas”, mahasiswa ditempatkan sebagai bagian dari upaya perubahan perilaku di tingkat masyarakat. Mereka tidak diposisikan sebagai petugas pengangkut ataupun pemilah sampah, melainkan sebagai motivator dan fasilitator yang membantu warga membangun kebiasaan pengelolaan sampah dari hulu.
Program KKN Berlangsung 12 Minggu
Program KKN Tematik 2026 dirancang berlangsung selama 12 minggu. Beban kegiatan tersebut setara dengan 10 SKS atau 450 jam. Rangkaian pelaksanaan tidak hanya berupa kegiatan lapangan, tetapi juga mencakup pembekalan, pemetaan kondisi sampah, serta pengukuran pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat.
Mahasiswa juga akan terlibat dalam audit sampah dan penyusunan rencana aksi selama 90 hari. Setelah rencana disusun, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan, evaluasi, serta penguatan keberlanjutan agar praktik pengelolaan sampah tidak berhenti setelah masa KKN selesai.
Pendekatan tersebut menempatkan persoalan sampah sebagai isu yang perlu ditangani secara menyeluruh. Pemilahan dari rumah menjadi titik awal, kemudian diperkuat melalui pengorganisasian warga, pengembangan fasilitas pengelolaan, dan pemantauan hasil di wilayah dampingan.
Menjangkau Sekitar 2.500 RW
Program ini menargetkan pendampingan sekitar 2.500 rukun warga (RW) di kawasan pelaksanaan. Pada tingkat kelurahan atau desa dampingan, program menargetkan terbentuknya sedikitnya satu bank sampah aktif. Sementara itu, setiap RW diharapkan memiliki satu unit pengomposan aktif.
Penguatan kapasitas warga juga menjadi bagian dari target program. Setiap RW ditargetkan memiliki paling sedikit dua kader yang telah mendapatkan pelatihan. Kader tersebut menjadi unsur penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan, khususnya dalam mendorong pemilahan, pengomposan, dan pengelolaan sampah yang dapat dimanfaatkan kembali.
Target lain yang ditetapkan adalah pengurangan sampah residu yang masuk ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pemrosesan akhir (TPA) sebesar 15–20 persen dibandingkan kondisi awal. Capaian itu akan berkaitan dengan kondisi awal masing-masing wilayah, hasil audit sampah, serta konsistensi pelaksanaan rencana aksi selama pendampingan.
Mahasiswa Mendorong Perubahan Perilaku
Dalam desain program, peran mahasiswa tidak diarahkan untuk mengambil alih pekerjaan teknis pengelolaan sampah. Mahasiswa bertugas mendampingi masyarakat agar mampu memahami kondisi sampah di lingkungannya, menentukan langkah perbaikan, dan menjalankan kebiasaan baru secara bersama-sama.
Peran sebagai motivator dan fasilitator perubahan perilaku membuat mahasiswa perlu membangun komunikasi dengan warga, pengelola lingkungan, kader, serta unsur masyarakat lainnya. Pendekatan ini juga memungkinkan setiap wilayah menyusun aksi berdasarkan kondisi sampah dan kemampuan yang tersedia di masing-masing kawasan.
Rencana aksi 90 hari menjadi salah satu instrumen untuk menerjemahkan hasil pemetaan dan audit sampah ke dalam kegiatan yang lebih terarah. Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan pendampingan sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih membutuhkan penguatan.
Bagian dari Penguatan Ekonomi Sirkular
KKN Tematik “Sampah Tuntas” merupakan bagian dari program GRADASI di kawasan Bandung Raya dan Kabupaten Sumedang. Selain mendorong pengurangan sampah, kegiatan ini berfokus pada penguatan ekonomi sirkular.
Dalam konteks tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya dilihat sebagai kegiatan pemindahan sampah dari rumah ke TPS atau TPA. Sampah yang masih memiliki nilai dapat diarahkan untuk dipilah dan dikelola melalui bank sampah, sedangkan sampah organik dapat ditangani melalui unit pengomposan.
Penguatan kelembagaan warga menjadi penting karena keberlanjutan pengelolaan sampah bergantung pada aktivitas yang berjalan setelah program KKN berakhir. Bank sampah, unit pengomposan, dan kader lingkungan diharapkan menjadi bagian dari sistem lokal yang terus beroperasi di kelurahan, desa, dan RW dampingan.
Timbulan Sampah Menjadi Tantangan Kawasan
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyebut timbulan sampah di Bandung Raya mencapai lebih dari 4.489 ton per hari. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan pengelolaan sampah di kawasan yang menjadi lokasi program.
Secara lebih luas, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 mencatat timbulan sampah di Jawa Barat sebesar 17.398,54 ton per hari. Kondisi tersebut memperlihatkan perlunya upaya yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan masyarakat.
Keterlibatan 90 perguruan tinggi swasta dan 25.529 mahasiswa diharapkan memperluas jangkauan edukasi serta pendampingan di tingkat komunitas. Dengan cakupan 56 kecamatan dan sekitar 2.500 RW, program ini dirancang untuk menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan pengelolaan sampah di lapangan.
Pengelolaan dari Hulu Menjadi Fokus
Fokus memilah sampah dari rumah menempatkan sumber sampah sebagai titik awal intervensi. Pemilahan yang dilakukan sejak awal dapat membantu membedakan sampah organik, material yang masih dapat dimanfaatkan, dan sampah residu. Langkah tersebut menjadi dasar bagi pengelolaan berikutnya di tingkat lingkungan.
Melalui pembekalan, pemetaan, survei, audit, pendampingan, dan evaluasi, mahasiswa akan membantu masyarakat memahami proses pengelolaan sampah secara lebih terstruktur. Program ini juga memberikan ruang bagi perguruan tinggi untuk menerapkan pengetahuan dan pendekatan akademik dalam persoalan lingkungan yang dihadapi warga.
Keberhasilan KKN Tematik “Sampah Tuntas” akan diukur melalui sejumlah target yang telah ditetapkan, termasuk keberadaan bank sampah aktif, unit pengomposan, kader terlatih, serta penurunan sampah residu yang menuju TPS atau TPA. Hasil pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di Bandung Raya serta Kabupaten Sumedang.
