UNAIR Rancang Modul Berbasis Budaya Papua untuk Siswa Manokwari

Guru dan siswa belajar menggunakan bahan ajar yang mengangkat budaya lokal Papua di lingkungan sekolah Manokwari

MANOKWARI – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) menyusun modul pembelajaran kontekstual bagi siswa di Kawasan Transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Modul tersebut dirancang dengan mengangkat unsur budaya lokal agar materi belajar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Materi yang dikembangkan mencakup bahasa, cerita rakyat, permainan tradisional, pengetahuan lokal, kesenian, adat, serta kebiasaan masyarakat setempat. Penyusunan modul juga mempertimbangkan kondisi sekolah, termasuk perbedaan kemampuan membaca siswa dan keterbatasan bahan ajar yang tersedia.

Informasi mengenai penyusunan modul diberitakan pada 18 Oktober 2026. Sebelumnya, tim bersama guru dan pemangku kepentingan pendidikan mengadakan diskusi untuk membahas isi serta kebutuhan pembelajaran pada 29 September 2026.

Modul disusun berdasarkan kebutuhan sekolah

Pendekatan yang digunakan Tim Ekspedisi Patriot UNAIR menempatkan kondisi sekolah dan karakteristik siswa sebagai pertimbangan utama. Dengan demikian, modul tidak hanya berisi materi umum, tetapi juga diarahkan untuk menyesuaikan proses belajar dengan lingkungan sosial dan budaya tempat siswa tinggal.

Perbedaan kemampuan membaca menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar. Kondisi tersebut membuat materi perlu dirancang secara kontekstual dan mempertimbangkan kemampuan siswa dalam memahami isi pembelajaran. Keterbatasan bahan ajar di sekolah juga menjadi bagian dari kebutuhan yang melatarbelakangi pengembangan modul.

Penggunaan unsur budaya lokal dapat membantu menghadirkan konteks yang lebih dikenal siswa dalam kegiatan belajar. Bahasa, cerita rakyat, permainan tradisional, kesenian, adat, dan kebiasaan sehari-hari masyarakat menjadi bagian dari materi yang disiapkan tim.

Budaya lokal menjadi bagian dari materi pembelajaran

Modul pembelajaran budaya Papua UNAIR tidak hanya menempatkan budaya sebagai topik tambahan. Berbagai unsur lokal direncanakan menjadi bagian dari bahan yang dapat digunakan dalam proses belajar di sekolah.

Bahasa dan cerita rakyat, misalnya, dapat menjadi bagian dari materi yang berkaitan dengan kemampuan memahami bacaan. Permainan tradisional dapat digunakan sebagai konteks untuk mengenalkan aktivitas yang dekat dengan siswa. Sementara itu, pengetahuan lokal, kesenian, adat, dan kebiasaan sehari-hari dapat memperkaya pembahasan sesuai dengan lingkungan masyarakat di Prafi.

Materi tersebut disusun dengan memperhatikan kebutuhan pendidikan setempat. Karena kemampuan membaca siswa tidak seragam, pengembangan modul perlu memperhitungkan cara penyajian bahan agar dapat digunakan dalam situasi pembelajaran yang beragam. Fokusnya bukan sekadar memperkenalkan budaya, melainkan menghubungkan isi pelajaran dengan pengalaman siswa.

Guru dan pemangku kepentingan dilibatkan

Diskusi penyusunan modul berlangsung pada 29 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, guru dan pemangku kepentingan pendidikan dilibatkan untuk memberikan masukan terhadap isi modul.

Keterlibatan pihak sekolah penting karena guru memahami kebutuhan siswa serta kondisi pembelajaran di lapangan. Masukan dari guru dapat membantu tim menilai kesesuaian materi, sementara pandangan pemangku kepentingan pendidikan dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan bahan ajar untuk wilayah tersebut.

Proses diskusi juga menjadi tahap untuk memastikan materi yang diangkat tetap relevan dengan masyarakat setempat. Dengan melibatkan pihak yang berhubungan langsung dengan pendidikan, penyusunan modul dapat diarahkan pada kebutuhan nyata sekolah, bukan hanya pada rancangan akademik.

Tahap berikutnya adalah uji penggunaan modul

Setelah tahap penyusunan dan diskusi, modul direncanakan untuk diuji dalam proses pembelajaran. Pengujian ini diperlukan untuk melihat bagaimana bahan ajar digunakan serta bagaimana siswa merespons materi yang disampaikan.

Tim juga akan mengamati perkembangan kemampuan siswa selama penggunaan modul. Selain itu, evaluasi akan dihimpun dari guru sebagai pengguna yang mendampingi proses pembelajaran. Hasil pengamatan dan masukan tersebut dapat menjadi bahan perbaikan terhadap modul.

Tahap uji coba membuat pengembangan modul berlangsung secara bertahap. Isi yang telah disusun tidak langsung dianggap final, tetapi perlu dilihat kembali berdasarkan pengalaman penggunaan di kelas. Evaluasi dari guru dan perkembangan siswa menjadi bagian penting untuk menilai kesesuaian modul dengan kebutuhan sekolah.

Kontribusi perguruan tinggi melalui pendampingan pendidikan

Penyusunan modul di Prafi menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung inovasi pembelajaran di daerah. Melalui Tim Ekspedisi Patriot, UNAIR terlibat dalam pengembangan bahan ajar yang berangkat dari kondisi lokal dan kebutuhan pendidikan di sekolah.

Pengembangan bahan ajar berbasis budaya juga memperlihatkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus menggunakan pendekatan yang jauh dari lingkungan siswa. Materi yang bersumber dari bahasa, cerita, permainan, kesenian, adat, dan kebiasaan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

Bagi sekolah di Kawasan Transmigrasi Prafi, modul ini diharapkan menjadi salah satu bahan pendukung pembelajaran. Namun, pemanfaatannya tetap akan melalui tahap pengujian dan evaluasi. Perkembangan siswa serta masukan guru akan menjadi dasar untuk melihat efektivitas dan kebutuhan penyempurnaan modul tersebut.

Dengan tahapan tersebut, pengembangan modul pembelajaran budaya Papua UNAIR berlangsung melalui proses yang melibatkan tim perguruan tinggi, sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan. Fokus utamanya adalah menyediakan bahan ajar yang lebih kontekstual bagi siswa di Manokwari sekaligus mempertimbangkan keragaman kemampuan membaca dan ketersediaan bahan ajar di sekolah.

← Kembali ke Berita Kampus