Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengembangkan mie fungsional bebas gluten berbahan tepung singkong termodifikasi atau Mocaf. Produk tersebut diuji penerimaannya pada 4 Oktober 2026 di Bojong Gede, Bogor, dengan melibatkan 100 responden.
Uji penerimaan ini menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi pangan lokal melalui Program Hiliriset Dorongan Teknologi 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Pelaksanaannya dilakukan bersama Pusat Koordinasi Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed.
Pengembangan mie bebas gluten berbasis Mocaf Unsoed tidak berhenti pada pembuatan prototipe. Program ini diarahkan menuju produksi skala pilot, tahap pra-komersial, penyusunan model bisnis, serta persiapan distribusi. Dengan demikian, riset diharapkan dapat bergerak dari tahap pengembangan teknologi menuju pemanfaatan yang lebih luas.
Uji penerimaan melibatkan 100 responden
Kegiatan di Bojong Gede dilakukan untuk memperoleh gambaran penerimaan konsumen terhadap produk mie yang menggunakan Mocaf sebagai bahan utama. Tepung ini berasal dari singkong yang telah melalui proses modifikasi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan olahan dengan karakteristik berbeda dari tepung singkong biasa.
Berdasarkan hasil uji, sebagian besar responden menerima dan menyukai produk yang dikembangkan. Penilaian positif terutama terlihat pada aspek kenampakan, warna, aroma, dan cita rasa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai alternatif pangan berbasis komoditas lokal.
Meski demikian, tim Unsoed mencatat masih terdapat aspek yang perlu disempurnakan. Tekstur mie dinilai kurang elastis sehingga menjadi salah satu fokus perbaikan pada tahap pengembangan berikutnya. Penyempurnaan tekstur penting untuk meningkatkan pengalaman konsumsi dan memperkuat penerimaan produk ketika diarahkan ke skala produksi yang lebih besar.
Menuju peningkatan kesiapterapan teknologi
Program Hiliriset Dorongan Teknologi 2026 menargetkan peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 6 menuju level 8 selama dua tahun. Tahapan tersebut mencerminkan proses pengembangan teknologi yang tidak hanya menilai keberhasilan produk di lingkungan pengujian, tetapi juga mempersiapkan penerapan dan produksi yang lebih mendekati kondisi nyata.
Dalam konteks mie bebas gluten berbasis Mocaf Unsoed, peningkatan TKT mencakup penyempurnaan formulasi, pengujian penerimaan, persiapan produksi skala pilot, hingga pengembangan tahap pra-komersial. Rangkaian kegiatan itu juga berkaitan dengan penyusunan model bisnis dan rancangan distribusi produk.
Agenda tersebut menempatkan riset pangan sebagai bagian dari proses hilirisasi yang lebih luas. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan temuan penelitian, tetapi juga menguji kesesuaian produk, mengidentifikasi kebutuhan perbaikan, dan menyiapkan strategi agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Mocaf dan peluang pemanfaatan singkong lokal
Penggunaan Mocaf dalam produk mie berkaitan dengan upaya memanfaatkan singkong sebagai bahan pangan lokal. Singkong merupakan komoditas yang dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk bahan dasar pangan olahan. Pengembangan mie berbasis Mocaf membuka peluang diversifikasi produk sekaligus memperluas pemanfaatan bahan pangan selain gandum.
Konsep bebas gluten juga menjadi bagian dari karakteristik produk yang dikembangkan Unsoed. Namun, penerimaan konsumen tetap dipengaruhi oleh berbagai atribut, seperti bentuk, warna, aroma, rasa, dan tekstur. Karena itu, hasil uji penerimaan menjadi masukan penting bagi tim untuk menyeimbangkan tujuan fungsional produk dengan kualitas sensori yang diharapkan konsumen.
Selain menilai produk, tim Unsoed menemukan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai Mocaf masih terbatas. Ketersediaan Mocaf di pasar juga belum banyak diketahui. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk perlu disertai pengenalan bahan baku dan komunikasi yang memadai kepada masyarakat.
Tantangan hilirisasi tidak hanya pada produk
Hasil uji di Bogor memperlihatkan bahwa penerimaan terhadap mie Mocaf sudah terbentuk, tetapi masih ada pekerjaan lanjutan sebelum produk memasuki tahap yang lebih luas. Perbaikan tekstur menjadi salah satu prioritas teknis. Di sisi lain, pemahaman konsumen mengenai Mocaf dan akses terhadap bahan tersebut perlu diperkuat.
Dalam proses hilirisasi, kesiapan produk berjalan beriringan dengan kesiapan model bisnis dan distribusi. Produk yang telah diterima dalam uji konsumen tetap memerlukan perencanaan produksi, pengelolaan pasokan bahan baku, serta saluran distribusi yang sesuai. Karena itu, program Unsoed mencakup persiapan dari aspek teknologi dan nonteknologi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan Program Hiliriset Dorongan Teknologi 2026 untuk mendorong hasil penelitian agar dapat memasuki tahap pilot dan pra-komersial. Bagi pengembangan mie berbasis Mocaf, tahapan ini menjadi dasar untuk menilai kelayakan pengembangan secara lebih terstruktur.
Peran perguruan tinggi dalam hilirisasi pangan
Pengembangan mie bebas gluten berbasis Mocaf menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menjembatani riset terapan dengan kebutuhan pangan. Unsoed menggabungkan pengembangan teknologi, uji penerimaan konsumen, serta persiapan bisnis dan distribusi dalam satu rangkaian kegiatan.
Inovasi ini juga berkaitan dengan diversifikasi pangan dan pemanfaatan komoditas singkong lokal. Jika pengembangan teknologi, kualitas produk, pengetahuan masyarakat, dan akses pasar dapat dipersiapkan secara berkelanjutan, produk berbasis Mocaf memiliki peluang untuk menjadi bagian dari pilihan pangan olahan lokal.
Pemberitaan mengenai uji produk tersebut disampaikan Ditjen Dikti pada 8 Oktober 2026. Tahap selanjutnya bagi tim Unsoed adalah melanjutkan penyempurnaan produk, terutama pada karakteristik tekstur, sekaligus menyiapkan proses produksi skala pilot, pra-komersial, model bisnis, dan distribusi sesuai target peningkatan TKT.
