ICDM 2026 di UNAND Bahas Teknologi dan Kearifan Lokal

Peserta konferensi manajemen bencana berdiskusi di ruang pertemuan Universitas Andalas

PADANG – Universitas Andalas (UNAND) menyelenggarakan The 5th International Conference on Disaster Management atau ICDM 2026 di Convention Hall UNAND, Padang, pada 29–30 September 2026. Konferensi internasional ini membahas penguatan manajemen bencana melalui integrasi teknologi dan kearifan lokal.

Mengangkat tema “Integrating Technology and Local Wisdom for Sustainable Disaster Management”, ICDM 2026 mempertemukan akademisi, pemerintah, praktisi kebencanaan, serta mitra dari sejumlah institusi luar negeri. Forum tersebut diarahkan untuk memperluas pembahasan manajemen risiko bencana sekaligus mendorong agar hasil riset dapat ditindaklanjuti melalui kolaborasi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan.

Mempertemukan riset dan kebutuhan daerah

Penyelenggaraan ICDM 2026 berlangsung dalam konteks kebutuhan pengelolaan bencana yang semakin kompleks. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan kajian akademik, tetapi juga menghubungkan pengetahuan tersebut dengan kebutuhan pemerintah dan masyarakat di wilayah rawan bencana.

Melalui konferensi ini, UNAND membuka ruang pertukaran gagasan lintas disiplin. Akademisi dapat mempresentasikan hasil penelitian, sementara pemerintah dan praktisi menyampaikan tantangan yang dihadapi dalam pengurangan risiko, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

Integrasi teknologi dan kearifan lokal menjadi fokus utama karena keduanya memiliki peran yang saling melengkapi. Teknologi dapat mendukung pemantauan, pemodelan, penyebaran informasi, dan pengambilan keputusan. Di sisi lain, pengetahuan lokal dapat membantu masyarakat memahami lingkungan, mengenali tanda-tanda bahaya, serta mempertahankan praktik adaptasi yang berkembang di wilayah masing-masing.

Agenda membahas isu kebencanaan secara multidisiplin

Topik yang dibahas dalam ICDM 2026 mencakup berbagai tahapan manajemen bencana. Pembahasan tidak terbatas pada respons setelah bencana terjadi, tetapi juga meliputi upaya pencegahan, pengurangan risiko, dan pembangunan ketangguhan masyarakat.

  • Analisis risiko bencana dan penguatan sistem peringatan dini.
  • Dampak perubahan iklim terhadap ancaman dan kerentanan wilayah.
  • Kesehatan, kesiapsiagaan, serta kapasitas masyarakat menghadapi bencana.
  • Infrastruktur dan kebutuhan pembangunan yang lebih tangguh.
  • Mitigasi gempa bumi dan tsunami.
  • Pemulihan pascabencana dan pengelolaan risiko secara berkelanjutan.

Ragam topik tersebut menunjukkan bahwa manajemen bencana membutuhkan pendekatan lintas bidang. Aspek teknologi, tata kelola, kesehatan, infrastruktur, lingkungan, dan kapasitas sosial perlu dipertimbangkan secara bersama agar kebijakan yang dihasilkan dapat menjawab kondisi di lapangan.

Kerja sama UNAND dengan pemerintah daerah

Dalam rangkaian kegiatan ICDM 2026, UNAND juga menandatangani kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kabupaten Agam. Kerja sama tersebut mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kolaborasi ini memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menghadapi persoalan kebencanaan. Kampus memiliki sumber daya akademik dan riset, sedangkan pemerintah daerah memiliki pengalaman serta pengetahuan mengenai kebutuhan masyarakat dan karakteristik wilayahnya.

Kerja sama yang mencakup pendidikan dan penelitian dapat membuka peluang pengembangan kajian yang lebih sesuai dengan persoalan daerah. Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi jalur penerapan pengetahuan melalui kegiatan peningkatan kapasitas, edukasi kebencanaan, dan penguatan kesiapsiagaan.

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal. Penerapan inovasi, termasuk sistem informasi dan peringatan dini, perlu mempertimbangkan akses, kemampuan pengguna, serta keberlanjutan pengelolaannya di tingkat daerah.

Relevansi konferensi di tengah tingginya bencana hidrometeorologi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terdapat 1.980 kejadian bencana di Indonesia hingga 28 September 2026. Dari jumlah tersebut, bencana hidrometeorologi mendominasi dengan proporsi 99,14 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan risiko bencana perlu memperhatikan ancaman yang berkaitan dengan kondisi cuaca, iklim, dan perubahan lingkungan. Banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, serta ancaman hidrometeorologi lainnya dapat berdampak pada permukiman, infrastruktur, layanan publik, kesehatan, dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Dalam situasi tersebut, forum seperti ICDM 2026 memiliki relevansi bagi perguruan tinggi dan daerah rawan bencana. Pertukaran pengalaman dapat membantu mempertemukan temuan penelitian dengan kebutuhan kebijakan, sekaligus mengidentifikasi pendekatan yang dapat diterapkan secara lebih luas.

Penguatan sistem peringatan dini, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan perangkat. Informasi harus dapat dipahami, dipercaya, dan diteruskan kepada masyarakat dengan cepat. Karena itu, teknologi perlu didukung tata kelola yang jelas, simulasi kesiapsiagaan, serta pemahaman terhadap kebiasaan dan jaringan sosial setempat.

Menjaga keberlanjutan hasil konferensi

UNAND mengarahkan ICDM 2026 agar tidak berhenti sebagai forum presentasi dan diskusi. Hasil konferensi diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kolaborasi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan dalam pengelolaan risiko bencana.

Tindak lanjut tersebut penting untuk memastikan pengetahuan yang dibahas memiliki manfaat praktis. Riset dapat digunakan untuk memperbaiki pemetaan risiko, menyusun strategi kesiapsiagaan, mendukung perencanaan infrastruktur, dan memperkuat pemulihan masyarakat setelah bencana.

Keberlanjutan juga memerlukan koordinasi antara perguruan tinggi, pemerintah, praktisi, dan masyarakat. Setiap pihak memiliki peran dalam memastikan bahwa rekomendasi yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi program, regulasi, maupun inovasi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah.

Dengan mempertemukan teknologi, penelitian, kebijakan, dan kearifan lokal, ICDM 2026 Universitas Andalas menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem manajemen bencana. Konferensi pada 29–30 September 2026 tersebut menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai salah satu landasan untuk membangun ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan.

← Kembali ke Berita Kampus