AKPT Tahap III 2026 di ITB Bahas Transformasi Perguruan Tinggi

Para pemimpin perguruan tinggi mengikuti forum pembahasan transformasi dan inovasi di ruang auditorium kampus

Bandung — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyelenggarakan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) Angkatan 1 Tahap III Tahun 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 8–9 Oktober 2026. Mengangkat tema “Institutional Transformation & Innovation”, kegiatan ini membahas kesiapan kepemimpinan perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan teknologi, kebutuhan inovasi, dan dinamika global.

AKPT Tahap III 2026 diikuti para pemimpin dan calon pemimpin perguruan tinggi. Materi yang disiapkan mencakup transformasi digital, pemanfaatan kecerdasan artifisial, penguatan riset dan inovasi, hilirisasi hasil penelitian, pengembangan entrepreneurial university, serta tata kelola perguruan tinggi yang adaptif dan akuntabel.

Informasi awal mengenai agenda ini diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada 7 Oktober 2026. ITB kemudian mengonfirmasi pelaksanaan kegiatan pada 8 Oktober 2026. Karena rangkaian berlangsung hingga 9 Oktober, pemberitaan mengenai agenda ini berfokus pada pelaksanaan dan materi yang dijadwalkan, bukan pada hasil akhir kegiatan.

Kelanjutan program kepemimpinan perguruan tinggi

AKPT Tahap III merupakan kelanjutan dari rangkaian pengembangan kepemimpinan perguruan tinggi yang telah dilaksanakan dalam dua tahap sebelumnya. Tahap I mengangkat kepemimpinan dasar dan berlangsung di Kemdiktisaintek serta Universitas Bina Nusantara. Setelah itu, Tahap II membahas kepemimpinan strategis universitas di Universitas Gadjah Mada.

Memasuki tahap ketiga, pembahasan diarahkan pada kemampuan institusi untuk menerjemahkan kepemimpinan strategis ke dalam transformasi organisasi, penguatan inovasi, dan pengelolaan perubahan. Fokus tersebut menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai penyelenggara pendidikan, tetapi juga sebagai institusi yang perlu responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.

Agenda hari pertama menyoroti praktik transformasi ITB

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai praktik transformasi riset dan inovasi di ITB. Sesi ini menjadi bagian penting karena memberikan ruang bagi peserta untuk memahami pendekatan institusional dalam mengembangkan riset, mendorong inovasi, dan menghubungkan hasil akademik dengan kebutuhan yang lebih luas.

Agenda hari pertama juga mencakup hilirisasi melalui perusahaan rintisan, transformasi digital, pemanfaatan kecerdasan artifisial, kerja sama pentahelix, serta tata kelola berbasis data. Berbagai topik tersebut berkaitan dengan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi ketika harus mengambil keputusan secara lebih cepat, terukur, dan tetap berorientasi pada akuntabilitas.

Hilirisasi melalui perusahaan rintisan menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian ini. Pembahasan tersebut berkaitan dengan upaya membawa hasil penelitian agar dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki manfaat lebih luas. Sementara itu, kerja sama pentahelix menekankan pentingnya keterhubungan perguruan tinggi dengan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan unsur terkait lainnya dalam membangun ekosistem inovasi.

Hari kedua membahas inovasi dan ketahanan institusi

Pada hari kedua, agenda dijadwalkan membahas transformasi dan inovasi institusi, manajemen inovasi, hilirisasi riset, regulasi sebagai penggerak inovasi, serta pengembangan entrepreneurial university. Materi lainnya adalah ketahanan institusi dalam menghadapi perubahan global.

Rangkaian materi tersebut memperluas pembahasan dari aspek teknologi dan riset menuju tata kelola kelembagaan. Perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan untuk mengelola inovasi secara terencana, menyiapkan regulasi yang mendukung, dan membangun mekanisme agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Konsep entrepreneurial university dalam agenda ini ditempatkan sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan pemanfaatan pengetahuan. Adapun topik ketahanan institusi berkaitan dengan kapasitas perguruan tinggi untuk tetap menjalankan fungsi akademik dan kelembagaannya ketika menghadapi perubahan lingkungan yang cepat.

Relevansi bagi kepemimpinan kampus

Pelaksanaan AKPT Tahap III 2026 menunjukkan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi semakin berkaitan dengan kemampuan mengelola transformasi. Pemimpin kampus tidak hanya dituntut memahami arah akademik, tetapi juga perlu mengenali perubahan teknologi, mengembangkan kolaborasi, dan memastikan tata kelola berjalan berdasarkan data serta prinsip akuntabilitas.

Pembahasan mengenai kecerdasan artifisial dan transformasi digital juga menandai pentingnya kesiapan institusi dalam merespons perkembangan teknologi. Namun, penerapan teknologi di perguruan tinggi tetap memerlukan arah kebijakan, pengelolaan risiko, dan kapasitas sumber daya manusia agar mendukung tujuan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui forum yang mempertemukan pemimpin dan calon pemimpin perguruan tinggi, AKPT diharapkan menjadi ruang pembelajaran mengenai berbagai pilihan strategi kelembagaan. Berbagi praktik transformasi ITB, pembahasan hilirisasi, dan penguatan tata kelola menjadi bagian dari agenda untuk memperkaya perspektif peserta dalam memimpin perubahan di institusi masing-masing.

Dengan tema “Institutional Transformation & Innovation”, Tahap III menempatkan transformasi kelembagaan dan inovasi sebagai agenda utama kepemimpinan pendidikan tinggi. Pelaksanaan pada 8–9 Oktober 2026 menjadi bagian dari rangkaian pengembangan kapasitas pemimpin perguruan tinggi untuk menghadapi tuntutan perubahan teknologi dan tantangan global secara adaptif.

← Kembali ke Berita Kampus