Forum Guru Besar PTMA Gagas Muhammadiyah United

Para guru besar mengikuti forum akademik lintas perguruan tinggi di sebuah ruang konvensi di Yogyakarta.

YOGYAKARTA – Forum Komunikasi Guru Besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (Forkom GB-PTMA) 2026 menggagas jejaring “Muhammadiyah United” untuk mempercepat pemerataan kapasitas akademik di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Gagasan tersebut dibahas dalam forum yang berlangsung di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Yogyakarta, Jumat, 9 Oktober 2026.

Forum ini dihadiri lebih dari 100 guru besar dari lingkungan PTMA. Jejaring Muhammadiyah United diarahkan untuk mempertemukan kepakaran guru besar lintas kampus sehingga dapat dimanfaatkan oleh perguruan tinggi yang belum memiliki guru besar atau masih memerlukan penguatan pada bidang akademik tertentu.

Kerja sama yang dirancang tidak hanya berfokus pada penambahan jumlah guru besar. Jejaring tersebut mencakup pemetaan kepakaran, benchmarking, pendampingan akademik, penelitian dan publikasi bersama, konsultasi pengembangan program studi, serta pengabdian kepada masyarakat.

Menjawab ketimpangan distribusi guru besar

Gagasan Muhammadiyah United muncul dari kondisi distribusi guru besar PTMA yang masih belum merata. Laporan yang disampaikan dalam forum menyebutkan bahwa 117 dari 162 PTMA belum memiliki guru besar. Namun, terdapat pula laporan yang menggunakan angka 165 PTMA. Perbedaan jumlah tersebut menunjukkan bahwa data kelembagaan perlu dibaca sesuai sumber dan konteks penyampaiannya.

Di sisi lain, jumlah guru besar yang berada di lingkungan PTMA masih terkonsentrasi pada sebagian kecil kampus. Data yang dibahas dalam forum menunjukkan sekitar 480 hingga 500 guru besar tersebar di sekitar 45 hingga 48 kampus. Angka itu menggambarkan adanya kesenjangan kapasitas akademik antarkampus, terutama antara perguruan tinggi yang telah memiliki banyak guru besar dan kampus yang belum memiliki guru besar.

Ketimpangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan status akademik personal. Ketersediaan guru besar juga berhubungan dengan kemampuan perguruan tinggi dalam mengembangkan program studi, membangun kelompok riset, menghasilkan publikasi, memperkuat tata kelola akademik, serta menjalankan pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Muhammadiyah United menjadi jejaring lintas kampus

Melalui Muhammadiyah United, guru besar dari berbagai PTMA diharapkan dapat berkontribusi melampaui batas institusi masing-masing. Pemetaan kepakaran menjadi salah satu langkah awal untuk mengetahui bidang keahlian yang tersedia dan kebutuhan akademik di setiap kampus.

Setelah pemetaan dilakukan, jejaring tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun bentuk kolaborasi yang lebih terarah. Kampus yang membutuhkan penguatan di bidang tertentu dapat memperoleh pendampingan dari guru besar atau kelompok akademik yang memiliki kompetensi relevan. Pendampingan ini dapat mencakup penyusunan agenda riset, pengembangan publikasi, konsultasi program studi, hingga penguatan kapasitas dosen.

Kerja sama penelitian dan publikasi bersama juga menjadi bagian penting dari gagasan tersebut. Kolaborasi lintas PTMA dapat membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, pengembangan tema riset yang lebih luas, dan pemanfaatan sumber daya akademik secara bersama-sama. Dalam jangka panjang, pola ini diharapkan membantu kampus membangun ekosistem akademik yang lebih kuat.

Selain kegiatan akademik, Muhammadiyah United dirancang untuk mendukung pengabdian kepada masyarakat. Guru besar dari berbagai disiplin ilmu dapat bekerja sama dengan kampus dan masyarakat untuk mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Dengan demikian, jejaring ini tidak berhenti pada penguatan reputasi akademik, tetapi juga diarahkan pada kontribusi nyata bagi masyarakat.

Peningkatan jumlah harus diikuti kualitas

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menekankan bahwa penambahan jumlah guru besar perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas dan kemajuan institusi. Pencapaian jabatan akademik tidak seharusnya diperlakukan semata-mata sebagai target administratif.

Penekanan tersebut menempatkan pemerataan guru besar dalam kerangka penguatan perguruan tinggi secara menyeluruh. Guru besar diharapkan berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pembinaan dosen, peningkatan mutu pembelajaran, penguatan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan pendekatan itu, keberadaan guru besar di kampus-kampus PTMA tidak hanya diukur berdasarkan jumlah. Kontribusi terhadap perkembangan institusi dan keberlanjutan program akademik menjadi bagian penting dari agenda pemerataan.

Rencana tindak lanjut 2026–2027

Forkom GB-PTMA 2026 juga merencanakan sejumlah tindak lanjut untuk menerjemahkan gagasan Muhammadiyah United ke dalam program yang lebih operasional. Forum tersebut membahas penyusunan pernyataan bersama, rekomendasi strategis, serta matriks rencana tindak lanjut untuk periode 2026–2027.

Pengembangan program lintas PTMA dapat dilakukan melalui konsorsium atau kelompok kerja. Bentuk ini memungkinkan pembagian peran yang lebih jelas, baik dalam pemetaan kepakaran, pendampingan kampus, pengembangan riset, maupun pelaksanaan program pengabdian.

Matriks rencana tindak lanjut diharapkan membantu memetakan kebutuhan, pihak yang terlibat, prioritas kegiatan, dan tahapan pelaksanaan. Perencanaan tersebut penting agar jejaring Muhammadiyah United tidak berhenti sebagai gagasan forum, melainkan dapat berkembang menjadi mekanisme kolaborasi yang terukur.

Agenda pemerataan guru besar juga membutuhkan koordinasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, organisasi, dan para akademisi. Setiap kampus memiliki kondisi, bidang unggulan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, bentuk pendampingan perlu disusun secara kontekstual dengan tetap mengacu pada tujuan bersama untuk meningkatkan kapasitas akademik PTMA.

Forum di Yogyakarta ini menandai upaya untuk menjadikan kepakaran guru besar sebagai sumber daya bersama. Melalui Muhammadiyah United PTMA, kolaborasi antarkampus diharapkan dapat memperkecil kesenjangan kapasitas akademik dan mendorong kemajuan institusi secara lebih merata.

← Kembali ke Berita Kampus