Unhas dan UQ Australia Perkuat Double Degree dan Riset Mineral Kritis

Perwakilan Unhas dan University of Queensland menandatangani nota kesepahaman dalam pertemuan akademik di Makassar

MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) dan University of Queensland (UQ), Australia, menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Makassar pada 12 Oktober 2026. Kesepakatan ini menjadi dasar untuk memperkuat kolaborasi akademik, termasuk pengembangan program double degree, mobilitas mahasiswa, peluang beasiswa, pendidikan doktoral, serta penjajakan riset bersama mengenai mineral kritis.

Kerja sama tersebut memperluas hubungan akademik yang telah terjalin antara Unhas dan UQ sejak 2017. Dalam pengembangan berikutnya, kedua universitas akan memetakan bidang prioritas berdasarkan kepakaran masing-masing, termasuk peluang kolaborasi yang berkaitan dengan potensi sumber daya mineral di Sulawesi.

MoU Menjadi Dasar Pengembangan Program Akademik

Penandatanganan MoU menandai kesepakatan kelembagaan antara Unhas dan UQ. Namun, sejumlah agenda yang tercakup di dalamnya masih berada pada tahap pengembangan, pembahasan, atau penjajakan. Dengan demikian, MoU berfungsi sebagai landasan untuk merancang bentuk kerja sama yang lebih konkret pada masa mendatang.

Salah satu fokus utama ialah pengembangan program double degree. Skema ini memungkinkan mahasiswa mengikuti rancangan pendidikan yang terhubung antara dua universitas dan memperoleh pengalaman akademik di lebih dari satu lingkungan pendidikan. Unhas dan UQ sebelumnya telah memiliki pengalaman melalui skema double degree 2+2 pada bidang tertentu.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari konteks hubungan kedua institusi. Meski demikian, perluasan atau pengembangan program baru tetap memerlukan pembahasan lebih lanjut, termasuk penyesuaian bidang studi, struktur kurikulum, persyaratan akademik, serta mekanisme pelaksanaan.

Peluang Mobilitas Mahasiswa Dua Arah

Kerja sama Unhas dan UQ juga mencakup peluang pertukaran mahasiswa. Mobilitas tersebut diarahkan untuk membuka kesempatan bagi mahasiswa dari kedua universitas agar dapat memperoleh pengalaman akademik dan budaya di lingkungan mitra.

Peluang mobilitas mahasiswa dua arah dapat menjadi bagian penting dari penguatan internasionalisasi pendidikan tinggi. Bagi mahasiswa, pengalaman belajar lintas negara dapat memperluas wawasan mengenai metode pembelajaran, penelitian, dan isu akademik yang berkembang di Indonesia maupun Australia.

Dalam pelaksanaannya, skema pertukaran tetap membutuhkan pengaturan teknis lebih lanjut. Hal-hal seperti pengakuan kredit, durasi studi, bidang yang tersedia, serta persyaratan peserta perlu dirumuskan oleh kedua universitas sebelum program berjalan secara luas.

Pembahasan Beasiswa dan Pendidikan Doktoral

Unhas dan UQ turut membahas peluang beasiswa untuk mendukung akses mahasiswa terhadap program kerja sama. Informasi yang tersedia belum menetapkan rincian skema, jumlah penerima, bidang prioritas, maupun jadwal pendaftaran. Karena itu, peluang tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan kelembagaan.

Selain beasiswa, kedua universitas menjajaki pengembangan pendidikan doktoral. Kolaborasi pada jenjang ini dapat mencakup penelitian bersama dan peluang pembimbingan bersama bagi mahasiswa doktoral. Bentuk pelaksanaannya masih berada dalam tahap pengembangan dan akan bergantung pada kesesuaian bidang keahlian serta kesepakatan akademik kedua pihak.

Pembimbingan bersama dapat mempertemukan kapasitas akademik peneliti dari Unhas dan UQ dalam satu agenda penelitian. Skema tersebut juga berpotensi memperkuat jejaring akademik, selama rancangan program, tanggung jawab pembimbing, dan ketentuan akademiknya disepakati secara jelas.

Menjajaki Riset Mineral Kritis di Sulawesi

Bidang lain yang menjadi perhatian dalam kolaborasi Unhas UQ Australia ialah riset mineral kritis. Penjajakan ini dikaitkan dengan konteks potensi sumber daya mineral di Sulawesi, sehingga kerja sama penelitian diharapkan dapat disusun berdasarkan kebutuhan ilmiah dan kepakaran yang tersedia di kedua universitas.

Ruang riset yang disebut mencakup karakteristik mineral, teknologi pengolahan, serta keberlanjutan pengelolaan sumber daya. Ketiga bidang tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tidak hanya diarahkan pada identifikasi atau karakterisasi material, tetapi juga pada aspek teknologi dan pengelolaan sumber daya dalam jangka panjang.

Karakteristik mineral dapat menjadi dasar untuk memahami sifat dan potensi suatu sumber daya. Sementara itu, pengembangan teknologi pengolahan berkaitan dengan upaya mengkaji metode yang sesuai untuk menghasilkan nilai tambah. Aspek keberlanjutan menempatkan pengelolaan sumber daya sebagai bagian penting dari agenda penelitian.

Meski demikian, riset mineral kritis yang dibahas dalam kerja sama ini masih berada pada tahap penjajakan. Kedua universitas perlu memetakan bidang prioritas, menyelaraskan keahlian peneliti, dan menyusun agenda penelitian sebelum proyek kolaboratif tertentu ditetapkan.

Peran Australia-Indonesia Centre Lab di Unhas

Hubungan akademik Unhas dan UQ telah berlangsung sejak 2017. Salah satu ruang yang menghubungkan peneliti Indonesia dan Australia ialah Australia-Indonesia Centre Lab di Unhas. Keberadaan ruang kolaborasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman kelembagaan yang mendukung hubungan akademik kedua universitas.

Jejaring yang telah terbentuk dapat membantu proses pemetaan kepakaran dan penyusunan agenda bersama. Dalam konteks mineral kritis, kerja sama tersebut dapat diarahkan untuk mempertemukan peneliti yang memiliki kompetensi pada karakterisasi mineral, teknologi pengolahan, maupun keberlanjutan pengelolaan sumber daya.

Namun, penguatan hubungan akademik tidak hanya bergantung pada penandatanganan MoU. Keberlanjutan kerja sama memerlukan program yang terukur, pembagian peran yang jelas, serta tindak lanjut dari masing-masing unit akademik. Hal itu berlaku baik untuk pengembangan double degree, mobilitas mahasiswa, beasiswa, pendidikan doktoral, maupun riset bersama.

Agenda Tindak Lanjut Kolaborasi

Setelah MoU ditandatangani, Unhas dan UQ masih perlu menerjemahkan kesepakatan umum tersebut ke dalam program kerja. Pada bidang pendidikan, tindak lanjut dapat berupa pembahasan rancangan double degree, mekanisme pertukaran mahasiswa, peluang pendanaan, serta pengembangan jalur pendidikan doktoral.

Pada bidang riset, agenda berikutnya mencakup pemetaan bidang prioritas dan kepakaran peneliti. Langkah ini penting agar penelitian mengenai mineral kritis dapat dibangun berdasarkan topik yang relevan, kapasitas laboratorium, serta kebutuhan pengembangan ilmu dan pengelolaan sumber daya.

Dengan penandatanganan MoU pada 12 Oktober 2026, Unhas dan UQ memiliki landasan baru untuk memperluas kemitraan yang telah berjalan sejak 2017. Sementara program double degree, mobilitas, beasiswa, pendidikan doktoral, dan riset mineral kritis masih dikembangkan atau dijajaki, kesepakatan ini menegaskan arah kerja sama akademik kedua universitas pada periode berikutnya.

← Kembali ke Berita Kampus