GRAFITACI 2026 UIN Raden Fatah Resmi Ditutup, Jejaring Internasional Makin Kuat

Mahasiswa internasional mengikuti kegiatan budaya dan permainan tradisional dalam acara kampus di Palembang

GRAFITACI 2026 UIN Raden Fatah resmi ditutup pada Kamis, 1 Oktober 2026, di UIN Raden Fatah Palembang. Kegiatan internasional yang berlangsung selama 29 September hingga 1 Oktober 2026 ini mempertemukan mahasiswa internasional dan sivitas akademika dalam rangkaian agenda akademik, seni, budaya, serta kompetisi permainan tradisional.

Penutupan GRAFITACI 2026 menegaskan pentingnya penguatan jejaring internasional di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Selain menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dari berbagai negara, kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun persahabatan, memperluas pertukaran budaya, dan membuka peluang kolaborasi antarperguruan tinggi.

Mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara

GRAFITACI 2026 atau Global Raden Fatah International Cultural and Academic menghadirkan peserta dari sejumlah negara. Perwakilan mahasiswa berasal antara lain dari Somalia, Malaysia, Pakistan, Yordania, Yaman, Thailand, Sudan, dan Sierra Leone.

Keberagaman asal peserta menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan tersebut. Interaksi yang berlangsung tidak hanya berfokus pada agenda akademik, tetapi juga memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal latar belakang sosial, tradisi, dan kebudayaan dari negara lain.

Bagi UIN Raden Fatah Palembang, forum seperti ini memperlihatkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi dapat dibangun melalui pengalaman langsung. Pertemuan mahasiswa lintas negara menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka, baik dalam kegiatan ilmiah maupun aktivitas kebudayaan.

Agenda akademik dan budaya dalam satu rangkaian

Selama tiga hari pelaksanaan, GRAFITACI 2026 menggabungkan sejumlah agenda yang menghubungkan keunggulan akademik dengan pengenalan budaya lokal. Rangkaian kegiatan mencakup seminar atau kuliah umum, forum bersama pengelola international office perguruan tinggi, serta berbagai kegiatan seni dan budaya.

Format kegiatan yang beragam membuat GRAFITACI tidak hanya menjadi pertemuan seremonial. Mahasiswa dan sivitas akademika dapat terlibat dalam pembahasan akademik sekaligus mengikuti aktivitas yang mendorong interaksi informal dan pengenalan tradisi.

Permainan tradisional menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian acara. Kompetisi ini memperkenalkan unsur budaya lokal kepada peserta internasional melalui kegiatan yang bersifat partisipatif. Dengan cara tersebut, budaya tidak hanya dipresentasikan, tetapi juga dialami secara langsung oleh peserta.

Kompetisi menampilkan budaya dan kemampuan berbahasa

Panitia juga menyelenggarakan lomba busana adat dan debat Bahasa Indonesia bagi penutur asing. Kedua agenda ini menunjukkan dua sisi pertukaran budaya yang saling melengkapi.

Lomba busana adat menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman pakaian tradisional. Peserta dapat menampilkan identitas budaya melalui pilihan busana, sementara peserta lain memperoleh kesempatan untuk memahami simbol dan kekayaan tradisi yang dibawa dalam kegiatan tersebut.

Di sisi lain, debat Bahasa Indonesia bagi penutur asing mendorong peserta internasional untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam forum kompetitif. Kegiatan ini sekaligus memperkuat fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dan jembatan pemahaman antarbudaya.

Pada acara penutupan, panitia mengumumkan pemenang untuk kategori Traditional Games, Best Traditional Costume, dan Debat Bahasa Indonesia. Pengumuman tersebut menjadi bagian dari rangkaian akhir kegiatan sekaligus bentuk apresiasi terhadap partisipasi dan kemampuan peserta.

Forum international office dorong peluang kolaborasi

Salah satu agenda GRAFITACI 2026 adalah forum bersama pengelola international office perguruan tinggi. Forum ini memiliki arti penting dalam mendukung pengelolaan kerja sama internasional secara lebih terarah.

Pengelola international office berperan dalam menghubungkan perguruan tinggi dengan mitra luar negeri, mendukung mobilitas mahasiswa, serta memfasilitasi kegiatan akademik internasional. Pertemuan dalam GRAFITACI dapat menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan menjajaki peluang kerja sama di antara institusi yang terlibat.

Jejaring yang terbentuk melalui forum tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan satu kegiatan. Hubungan antarmahasiswa dan antarperguruan tinggi dapat menjadi dasar bagi kerja sama lanjutan sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing institusi.

Internasionalisasi PTKIN melalui pengalaman langsung

GRAFITACI 2026 mencerminkan pendekatan internasionalisasi PTKIN yang memadukan kegiatan akademik, kebudayaan, dan pengembangan jejaring. Internasionalisasi tidak hanya diukur dari jumlah kerja sama atau kehadiran peserta dari luar negeri, tetapi juga dari kualitas interaksi dan peluang pembelajaran yang dihasilkan.

Melalui agenda lintas bidang, mahasiswa memperoleh pengalaman berkomunikasi dengan peserta dari negara lain. Mereka juga berhadapan dengan perbedaan kebiasaan, bahasa, dan cara pandang dalam suasana yang mendorong kerja sama serta saling menghargai.

Pengenalan budaya lokal dalam kegiatan internasional juga memberi posisi penting bagi identitas Indonesia. Permainan tradisional, busana adat, dan bahasa Indonesia menjadi bagian dari diplomasi budaya yang diperkenalkan melalui pengalaman bersama, bukan semata-mata melalui presentasi.

Penutupan menjadi awal hubungan yang lebih luas

Berakhirnya GRAFITACI 2026 pada Kamis, 1 Oktober 2026 menandai selesainya rangkaian kegiatan di UIN Raden Fatah Palembang. Namun, tujuan yang dibawa dalam kegiatan ini berlanjut pada upaya memperkuat persahabatan, pertukaran budaya, dan kolaborasi antarperguruan tinggi.

Kehadiran peserta dari Somalia, Malaysia, Pakistan, Yordania, Yaman, Thailand, Sudan, dan Sierra Leone memperlihatkan luasnya ruang perjumpaan yang dibangun melalui GRAFITACI. Jejaring tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan kerja sama internasional di lingkungan perguruan tinggi.

Dengan memadukan agenda akademik dan budaya, GRAFITACI 2026 menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dari proses internasionalisasi. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan jejaring global dapat berjalan beriringan dengan pengenalan budaya lokal dan pengembangan komunikasi lintas negara.

← Kembali ke Berita Kampus