JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong hilirisasi riset kratom melalui keterhubungan antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri. Dorongan tersebut dibahas Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersama Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Elfahmi dan jajaran PT Indofarma pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Pembahasan pengembangan kratom berfokus pada pemanfaatan teknologi ekstraksi dan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Salah satu perhatian yang muncul ialah proses pemurnian dengan konsentrasi mitraginin di atas 98 persen.
Pertemuan itu belum merupakan pengumuman mengenai obat berbasis kratom yang telah selesai dikembangkan atau resmi beredar. Agenda yang dibahas berada pada tahap pengembangan, penelitian, dan penyiapan kerja sama agar hasil riset perguruan tinggi dapat dihubungkan dengan kebutuhan industri secara terukur.
Fokus pada ekstraksi dan pemurnian
Teknologi ekstraksi dan pemurnian menjadi bagian penting dalam pembahasan karena keduanya berkaitan dengan upaya meningkatkan nilai tambah kratom. Pengembangan tersebut diarahkan pada pemanfaatan teknologi yang dapat menghasilkan bahan dengan tingkat kemurnian tertentu, termasuk perhatian terhadap konsentrasi mitraginin di atas 98 persen.
Dalam konteks hilirisasi, hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik. Riset perlu dihubungkan dengan kebutuhan pengguna atau mitra industri melalui proses kolaborasi yang mempertemukan kapasitas perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia usaha. Kemdiktisaintek mendorong agar hubungan tersebut disiapkan sejak proses pengembangan berlangsung.
Pendekatan itu memungkinkan aspek teknologi, kebutuhan industri, serta ketentuan pengawasan dibahas secara bersamaan. Namun, pembahasan mengenai teknologi pemurnian tidak dapat dipahami sebagai tanda bahwa seluruh proses pengembangan telah tuntas. Masih diperlukan pengkajian, koordinasi, dan pemenuhan ketentuan yang berkaitan dengan pemanfaatan kratom.
Riset farmakologi menjadi bagian pengembangan
Rektor ITERA Elfahmi menyampaikan bahwa penelitian terkait kratom juga mencakup kajian aktivitas farmakologi. Kajian tersebut dapat menjadi dasar bagi pengembangan produk obat, tetapi tidak secara otomatis berarti produk obat telah tersedia atau mendapatkan izin untuk beredar.
Perbedaan antara hasil riset dan produk obat yang siap digunakan perlu diperhatikan. Penelitian farmakologi merupakan salah satu bagian dalam proses pengembangan berbasis sains. Hasil kajian tetap perlu diikuti dengan tahapan lain sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pengujian, penilaian, dan pengawasan pada bidang yang terkait.
Karena itu, hilirisasi riset kratom perlu ditempatkan sebagai proses bertahap. Perguruan tinggi dapat berperan melalui penelitian dan pengembangan teknologi, sementara mitra industri dapat membantu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pengolahan atau pemanfaatan. Pembagian peran tersebut membutuhkan kejelasan tujuan serta koordinasi antarpihak.
Kolaborasi kampus dan industri
Kemdiktisaintek menekankan pentingnya menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Kolaborasi antara kampus dan mitra usaha diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan hasil penelitian, termasuk pada bidang ekstraksi, pemurnian, serta kajian yang mendukung pengembangan produk.
Dalam pembahasan bersama ITERA dan PT Indofarma, kerja sama lintas institusi menjadi unsur penting untuk mengembangkan kratom secara lebih terarah. Perguruan tinggi memiliki kapasitas penelitian, sedangkan industri memiliki kebutuhan terhadap bahan, proses, dan kemungkinan pengembangan yang dapat diterapkan. Lembaga penelitian juga dapat berperan dalam memperkuat dasar ilmiah dan proses pengujian.
Meski demikian, bentuk kolaborasi tersebut harus tetap mengikuti batasan dan ketentuan pada masing-masing bidang. Dorongan hilirisasi bukan berarti setiap hasil penelitian langsung dapat diproduksi atau dipasarkan. Keputusan terkait pemanfaatan lebih lanjut perlu mempertimbangkan hasil riset, kesiapan teknologi, ketentuan industri, serta aspek keamanan dan pengawasan.
Perlu koordinasi lintas kementerian dan lembaga
Pengembangan kratom tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan penelitian. Pemerintah menekankan perlunya koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mengidentifikasi serta mengawal regulasi yang berhubungan dengan industri, perdagangan, pengawasan, dan kesehatan.
Koordinasi tersebut diperlukan karena setiap aspek memiliki ruang lingkup dan kewenangan yang berbeda. Pengembangan teknologi pemurnian perlu berjalan searah dengan ketentuan mengenai bahan, kegiatan industri, dan perdagangan. Pada saat yang sama, kajian yang berkaitan dengan farmakologi dan kemungkinan pengembangan produk obat harus memperhatikan kerangka pengawasan kesehatan.
Dengan koordinasi sejak tahap pengembangan, hasil riset diharapkan dapat dinilai secara lebih menyeluruh. Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri dapat mengidentifikasi kebutuhan regulasi serta mengawal proses agar tidak terjadi pemisahan antara kemajuan teknologi dan ketentuan yang mengatur penggunaannya.
Hilirisasi masih menjadi proses pengembangan
Pertemuan pada 13 Oktober 2026 menunjukkan adanya perhatian terhadap pemanfaatan hasil riset kratom melalui teknologi dan kerja sama kelembagaan. Fokus pada ekstraksi, pemurnian, mitraginin dengan konsentrasi di atas 98 persen, serta kajian aktivitas farmakologi menjadi bagian dari pembahasan pengembangan.
Namun, informasi tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Hilirisasi riset kratom yang didorong Kemdiktisaintek merupakan upaya menghubungkan penelitian dengan kebutuhan industri, bukan pernyataan bahwa produk obat berbasis kratom telah selesai atau resmi beredar. Tahapan penelitian, penilaian, pengawasan, dan pemenuhan regulasi tetap menjadi bagian penting sebelum suatu produk dapat dikembangkan lebih lanjut.
Ke depan, keberhasilan pengembangan akan bergantung pada konsistensi kolaborasi antara kampus, lembaga penelitian, mitra industri, serta kementerian dan lembaga terkait. Dengan pendekatan yang berbasis riset dan koordinasi regulasi, pembahasan mengenai kratom dapat diarahkan pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam tanpa mengabaikan aspek pengawasan dan kesehatan.
