Universitas Pakuan (Unpak) mendorong mahasiswa untuk mengenal peluang karier dan kewirausahaan di bidang perfilman melalui Kuliah Umum dan Kick-Off Ekosistem Film Nasional dan Internasional 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026, di Ruang Teater Graha Pakuan Siliwangi, Bogor.
Berdasarkan informasi dari publikasi resmi Unpak, kegiatan ini diikuti 150 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara sivitas akademika, praktisi industri kreatif, dan perwakilan diaspora Indonesia dari sepuluh negara.
Topik yang dibahas mencakup kewirausahaan, moviepreneur, Akademi Film Desa, ekosistem film, serta peluang generasi muda Indonesia untuk berkiprah di pasar internasional. Melalui agenda ini, mahasiswa diperkenalkan pada perfilman bukan hanya sebagai kegiatan produksi karya, tetapi juga sebagai bidang yang memiliki hubungan dengan bisnis, teknologi, pendidikan, investasi, regulasi, dan pasar.
Memperluas pemahaman mahasiswa tentang industri film
Perkembangan industri film membutuhkan talenta dengan kemampuan yang beragam. Selain penulis, sutradara, aktor, dan kru produksi, ekosistem ini juga membutuhkan pengelola usaha, tenaga pemasaran, pengembang teknologi, peneliti, pendidik, serta pihak yang memahami distribusi dan pembiayaan karya.
Dalam konteks tersebut, kuliah umum Unpak menempatkan mahasiswa dari berbagai bidang studi sebagai bagian dari percakapan mengenai industri kreatif. Keterlibatan mahasiswa FEB, FISIB, dan FKIP menunjukkan bahwa pengembangan perfilman dapat dikaji dari perspektif ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan kewirausahaan.
Gagasan moviepreneur yang menjadi salah satu tema kegiatan mengarahkan perhatian pada peluang membangun usaha berbasis film dan konten kreatif. Mahasiswa tidak hanya didorong untuk memahami proses penciptaan karya, tetapi juga melihat bagaimana kreativitas dapat dikembangkan menjadi aktivitas profesional dan model usaha yang berkelanjutan.
Narasumber dari bidang usaha dan perfilman
Kegiatan tersebut menghadirkan Harlan Bestari Bengardi, CEO dan Co-Founder Pestigo, serta Reza B. Surianegara, produser, sutradara, dan Direktur Utama PT Mahakarya Bhumi Hambalang. Kehadiran dua narasumber dengan latar belakang berbeda memperkaya pembahasan mengenai hubungan antara kewirausahaan dan produksi film.
Harlan Bestari Bengardi mewakili pengalaman di bidang pengembangan usaha, sedangkan Reza B. Surianegara memiliki latar belakang dalam produksi dan penyutradaraan film. Berdasarkan tema yang diangkat, forum ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat industri kreatif dari sisi pengelolaan bisnis sekaligus proses penciptaan karya audiovisual.
Informasi yang tersedia mengenai agenda ini terutama berasal dari publikasi resmi Unpak. Karena itu, detail kegiatan dan pesan yang disampaikan dalam artikel ini dipaparkan secara atribusional sesuai informasi kampus, tanpa menambahkan klaim mengenai hasil atau dampak yang belum dilaporkan.
Kolaborasi untuk membangun ekosistem film
Kuliah umum dan kick-off tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Unpak dengan ICMI Film Academy and Creative Ecosystem, Bogor Global Youth Movement, Akademi Film Desa 2026, serta Road to Cannes Film Festival France 2028. Kolaborasi itu memperlihatkan upaya menghubungkan perguruan tinggi dengan berbagai inisiatif pengembangan film dan industri kreatif.
Dalam pengembangan talenta, kemitraan dapat membuka ruang untuk pertukaran pengetahuan, penguatan kapasitas, dan pengenalan mahasiswa terhadap kebutuhan industri. Namun, keberlanjutan ekosistem tetap bergantung pada keterhubungan berbagai unsur, termasuk pendidikan, produksi, teknologi, investasi, regulasi, dan akses pasar.
Unpak menempatkan perguruan tinggi sebagai ruang untuk mengembangkan talenta, riset, inovasi, kewirausahaan, dan kolaborasi. Posisi tersebut membuat kampus tidak hanya berperan dalam pembelajaran akademik, tetapi juga dapat menjadi tempat bertemunya gagasan dan jejaring yang mendukung pertumbuhan industri kreatif.
Akademi Film Desa dan peluang generasi muda
Salah satu tema yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah Akademi Film Desa. Tema tersebut memperluas pembahasan perfilman ke konteks pengembangan potensi lokal dan partisipasi masyarakat. Bagi mahasiswa, isu ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa produksi serta pengembangan cerita tidak selalu berpusat pada ruang industri di kota besar.
Pembahasan mengenai peluang internasional bagi generasi muda Indonesia juga menjadi bagian dari agenda. Dalam informasi resmi kegiatan, peluang tersebut dikaitkan dengan upaya menuju pasar internasional dan rangkaian Road to Cannes Film Festival France 2028. Kendati demikian, agenda ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa mahasiswa atau karya tertentu telah memperoleh akses atau pengakuan internasional.
Pengalaman menuju pasar global memerlukan kesiapan karya, sumber daya manusia, strategi distribusi, pemahaman terhadap audiens, serta dukungan ekosistem. Karena itu, pengenalan terhadap jejaring internasional perlu diikuti dengan penguatan kompetensi dan proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Relevansi bagi ekosistem film mahasiswa Unpak 2026
Bagi mahasiswa Unpak, kegiatan pada 22 Oktober 2026 dapat menjadi pengenalan awal terhadap pilihan karier di luar jalur pekerjaan konvensional. Bidang perfilman dan industri kreatif menawarkan ruang bagi kemampuan analitis, komunikasi, manajemen, produksi, teknologi, dan penciptaan konten untuk saling melengkapi.
Mahasiswa ekonomi dapat berkontribusi pada perencanaan bisnis dan pengelolaan keuangan. Mahasiswa ilmu sosial dan budaya dapat memperkuat kajian cerita, masyarakat, serta representasi budaya. Sementara itu, mahasiswa kependidikan dapat terlibat dalam pengembangan literasi, pendidikan film, dan penguatan kapasitas komunitas. Pembagian tersebut bukan batasan, melainkan contoh bagaimana berbagai disiplin dapat saling terhubung.
Melalui agenda ini, Unpak memperkenalkan pentingnya ekosistem dalam membangun industri film. Kreativitas perlu didukung pendidikan, teknologi, investasi, regulasi, dan pasar agar dapat berkembang menjadi karya serta kegiatan usaha yang berkelanjutan. Kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya kampus mempertemukan mahasiswa dengan wacana dan jejaring industri kreatif yang lebih luas.
