Jakarta, 7 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong pemetaan kebutuhan tenaga kerja, kompetensi, dan riset di sektor energi terbarukan. Langkah ini diarahkan untuk membantu perguruan tinggi menyiapkan mahasiswa sesuai dengan kebutuhan industri energi hijau.
Gagasan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie dalam pertemuan dengan METI Energi Muda di Jakarta pada 7 Oktober 2026. Informasi mengenai pertemuan itu diberitakan Kemdiktisaintek pada 12 Oktober 2026.
Pemetaan kebutuhan industri diharapkan dapat mempertemukan permintaan sektor energi terbarukan dengan kapasitas yang tersedia di perguruan tinggi. Ruang lingkupnya mencakup ketersediaan talenta, program studi yang relevan, kompetensi mahasiswa, prioritas riset, serta peluang kolaborasi antara kampus dan industri.
Mencocokkan kebutuhan industri dan kapasitas kampus
Sektor energi terbarukan membutuhkan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan teknologinya. Karena itu, pemetaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah lulusan, tetapi juga dengan jenis kompetensi yang dibutuhkan serta bidang riset yang dapat mendukung pengembangan energi bersih.
Bagi perguruan tinggi, informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat kesesuaian antara pembelajaran, pengembangan kompetensi mahasiswa, dan kebutuhan dunia kerja. Program studi juga dapat memahami bidang keahlian yang perlu diperkuat agar lulusan memiliki kesiapan yang lebih relevan untuk memasuki sektor energi terbarukan.
Selain aspek pendidikan, pemetaan juga menghubungkan agenda riset perguruan tinggi dengan persoalan yang dihadapi industri. Hubungan ini membuka ruang bagi riset terapan dan kerja sama kampus-industri yang berorientasi pada kebutuhan nyata di sektor energi hijau.
Program PLTS 100 GWp menjadi salah satu konteks
Pembahasan mengenai kebutuhan kompetensi energi terbarukan juga berkaitan dengan pengembangan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp. Program tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam melihat kebutuhan tenaga terampil di bidang energi surya.
Pengembangan kapasitas PLTS memerlukan dukungan sumber daya manusia yang memahami bidang energi surya. Dalam konteks pendidikan tinggi, kebutuhan tersebut menempatkan kurikulum, praktik pembelajaran, kompetensi teknis, dan riset sebagai bagian yang saling berkaitan.
Politeknik dipandang memiliki peran penting dalam menyiapkan lulusan untuk sektor energi terbarukan. Karakter pendidikan vokasi yang menekankan keterampilan dan kesiapan kerja dapat mendukung pembentukan talenta yang dibutuhkan dalam pengembangan energi surya dan bidang energi bersih lainnya.
Green jobs diperkenalkan kepada mahasiswa
Upaya menyiapkan talenta tidak hanya dilakukan melalui pembaruan kompetensi akademik. Pengenalan terhadap peluang kerja hijau atau green jobs juga menjadi bagian dari pembahasan antara Kemdiktisaintek dan METI Energi Muda.
METI Energi Muda telah menyelenggarakan Renewable Energy Campus Tour di sejumlah wilayah, yaitu Bandung, Padang, Sulawesi Utara, Surabaya, dan Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan isu energi terbarukan serta peluang karier yang berkaitan dengan sektor energi hijau kepada mahasiswa.
Untuk 2026, fokus kegiatan tersebut masih diarahkan pada peningkatan ketertarikan dan pemahaman mahasiswa terhadap green jobs. Dengan pemahaman yang lebih baik, mahasiswa dapat mengenali hubungan antara bidang studi, keterampilan yang mereka kembangkan, dan peluang kerja dalam sektor energi terbarukan.
Mentoring disiapkan sebagai tahap berikutnya
Selain kampanye pengenalan energi terbarukan di lingkungan kampus, terdapat gagasan untuk mengembangkan Renewable Energy Youth Mentoring. Program ini diarahkan sebagai tahap lanjutan, khususnya untuk pengembangan pada 2027.
Gagasan mentoring menunjukkan adanya rencana untuk melanjutkan proses pengenalan menuju pengembangan kapasitas mahasiswa. Namun, fokus pada 2026 masih berada pada peningkatan ketertarikan dan pemahaman terhadap peluang green jobs, sedangkan pengembangan mentoring ditempatkan pada tahap berikutnya.
Implikasi bagi perguruan tinggi
Pemetaan kebutuhan industri energi terbarukan dapat menjadi masukan bagi perguruan tinggi dalam menyusun prioritas pengembangan pendidikan dan riset. Kampus perlu memperhatikan keterkaitan antara program studi, kompetensi mahasiswa, kebutuhan tenaga kerja, serta bidang riset yang relevan dengan perkembangan energi hijau.
Dalam kerangka tersebut, talenta perguruan tinggi energi terbarukan tidak hanya dipahami sebagai lulusan dari program studi tertentu. Talenta juga mencakup mahasiswa yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan sektor, kemampuan untuk memahami persoalan energi, dan kesiapan berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Kolaborasi dengan industri dapat membantu perguruan tinggi memperoleh gambaran mengenai kebutuhan kompetensi dan arah pengembangan sektor energi terbarukan. Di sisi lain, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pendidikan, pengembangan keterampilan, dan riset yang mendukung kebutuhan tersebut.
Langkah pemetaan ini menempatkan hubungan antara kampus dan industri sebagai bagian penting dalam penyiapan sumber daya manusia. Bagi mahasiswa, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa peluang di sektor energi terbarukan berkaitan erat dengan penguasaan kompetensi, pemahaman terhadap kebutuhan industri, dan keterlibatan dalam agenda riset yang relevan.
Dengan demikian, pembahasan Kemdiktisaintek dan METI Energi Muda menjadi bagian dari upaya menghubungkan kebutuhan industri energi hijau dengan kapasitas pendidikan tinggi. Pemetaan talenta, program studi, kompetensi, dan riset diharapkan dapat membantu kampus menyiapkan lulusan yang lebih sesuai dengan perkembangan sektor energi terbarukan.
