Kementerian Agama mempercepat pemulihan perguruan tinggi keagamaan Islam yang terdampak banjir di Aceh. Upaya tersebut dilakukan melalui pemantauan langsung terhadap perkembangan perbaikan fasilitas dan dukungan bagi sivitas akademika di sejumlah kampus.
Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam memantau proses pemulihan di Universitas Islam Aceh (UIA) pada 25 September 2026. Sehari berikutnya, 26 September 2026, pemantauan dilanjutkan di Institut Agama Islam Ummul Ayman, Bireuen. Rangkaian pemantauan ini menjadi bagian dari upaya memastikan bantuan pemulihan berjalan sesuai kebutuhan dan mendukung keberlanjutan kegiatan pendidikan.
Pemulihan diarahkan untuk menjaga kesinambungan perkuliahan
Banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025 berdampak pada fasilitas pendidikan, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam. Kerusakan atau gangguan pada ruang belajar, fasilitas pendukung, serta sarana sanitasi dapat memengaruhi kegiatan perkuliahan, layanan administrasi, dan aktivitas akademik mahasiswa maupun dosen.
Karena itu, pemulihan kampus PTKI terdampak banjir Aceh tidak hanya berkaitan dengan perbaikan bangunan. Proses tersebut juga mencakup pemulihan layanan pendidikan agar kegiatan akademik dapat kembali berlangsung secara aman, nyaman, dan kondusif.
Bantuan yang disiapkan mencakup perbaikan sarana dan prasarana pembelajaran. Selain itu, terdapat dukungan bagi dosen dan tenaga kependidikan yang terdampak, serta keringanan atau bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa. Bentuk dukungan tersebut perlu dipahami sesuai peruntukannya, karena tidak seluruh bantuan merupakan pencairan tunai.
Pendekatan yang mencakup fasilitas dan unsur manusia di lingkungan kampus penting untuk memastikan pemulihan berjalan menyeluruh. Kampus memerlukan ruang dan peralatan yang dapat digunakan kembali, sementara mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan juga membutuhkan dukungan agar proses pendidikan tidak terhenti terlalu lama.
Fasilitas UIA yang menjadi perhatian
Di Universitas Islam Aceh, fasilitas yang terdampak dan menjadi bagian dari proses pemulihan meliputi ruang perkuliahan, laboratorium komputer, perpustakaan, rumah ibadah, serta sarana sanitasi.
Ruang perkuliahan merupakan fasilitas utama untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar. Laboratorium komputer dan perpustakaan juga berperan dalam mendukung kegiatan pembelajaran serta akses mahasiswa dan dosen terhadap sumber belajar. Sementara itu, rumah ibadah dan sarana sanitasi merupakan bagian dari lingkungan kampus yang perlu dipastikan kembali layak dan aman digunakan.
Pemulihan berbagai fasilitas tersebut membutuhkan penanganan yang tepat sasaran. Setiap sarana memiliki fungsi berbeda dalam kegiatan kampus, sehingga penentuan prioritas perbaikan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap aktivitas akademik sehari-hari. Fasilitas yang telah dipulihkan juga perlu mendukung lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif.
UIA menyebut kampusnya sebagai salah satu dari sembilan perguruan tinggi keagamaan Islam swasta (PTKIS) di bawah koordinasi Kopertais Wilayah V Aceh yang menerima alokasi bantuan pemulihan sarana dan prasarana pada tahun anggaran 2026. Informasi tersebut menunjukkan bahwa dukungan pemulihan diberikan dalam cakupan yang lebih luas, tidak hanya kepada satu perguruan tinggi.
Pemantauan Kemenag mencakup dua kampus
Pemantauan pada 25 September 2026 di UIA dan pada 26 September 2026 di Institut Agama Islam Ummul Ayman, Bireuen, memperlihatkan perhatian Kementerian Agama terhadap perkembangan pemulihan di tingkat kampus.
Pemantauan diperlukan untuk melihat kemajuan perbaikan, mengidentifikasi kebutuhan yang masih tersisa, serta memastikan dukungan yang diberikan selaras dengan kondisi kampus. Dalam situasi pascabencana, kebutuhan pemulihan dapat berbeda antara satu perguruan tinggi dan perguruan tinggi lainnya. Perbedaan kondisi fasilitas, tingkat dampak, dan kebutuhan sivitas akademika perlu menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan bantuan.
Langkah ini juga membantu menjaga agar proses pemulihan tidak berhenti pada alokasi bantuan. Hasil dukungan perlu terlihat dalam kembalinya fungsi ruang dan fasilitas pendidikan, meningkatnya kesiapan kampus untuk melayani mahasiswa, serta pulihnya kegiatan akademik secara bertahap.
Tantangan mengembalikan fasilitas agar aman digunakan
Pemulihan kampus pascabanjir menghadapi tantangan untuk mengembalikan fasilitas ke kondisi yang dapat digunakan secara aman. Ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, rumah ibadah, dan sarana sanitasi memiliki kebutuhan pemulihan yang berbeda. Karena itu, pelaksanaan perbaikan harus memperhatikan fungsi masing-masing fasilitas dan kebutuhan operasional kampus.
Tantangan lain adalah menjaga kesinambungan layanan selama proses pemulihan berlangsung. Mahasiswa dan dosen tetap membutuhkan kegiatan akademik, sedangkan kampus perlu menata kembali fasilitas yang terdampak. Dukungan bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting agar dampak gangguan terhadap proses pendidikan dapat ditekan.
Dalam konteks ini, ketepatan sasaran bantuan menjadi hal yang mendasar. Bantuan sarana-prasarana perlu diarahkan pada fasilitas yang paling dibutuhkan untuk mengembalikan kegiatan akademik. Dukungan pendidikan bagi mahasiswa serta bantuan bagi dosen dan tenaga kependidikan juga perlu disesuaikan dengan dampak yang mereka alami.
Menjaga keberlanjutan layanan pendidikan
Percepatan pemulihan yang dilakukan Kemenag di UIA dan Institut Agama Islam Ummul Ayman menunjukkan bahwa pengembalian fungsi kampus menjadi bagian penting dari penanganan dampak banjir di Aceh. Pemulihan bukan hanya soal memperbaiki bangunan, melainkan memastikan perguruan tinggi dapat kembali menjalankan tugas pendidikan secara normal.
Bagi mahasiswa, kembalinya ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, dan fasilitas pendukung akan membantu keberlanjutan aktivitas akademik. Bagi dosen dan tenaga kependidikan, pemulihan fasilitas serta dukungan yang sesuai dapat membantu mengembalikan layanan pendidikan dan administrasi kampus.
Dengan adanya alokasi bantuan bagi sembilan PTKIS di bawah koordinasi Kopertais Wilayah V Aceh, proses pemulihan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak kampus yang terdampak. Pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk memastikan bantuan digunakan sesuai kebutuhan dan fasilitas yang dipulihkan benar-benar dapat mendukung kegiatan perkuliahan.
Tujuan akhirnya adalah mengembalikan aktivitas akademik di kampus-kampus PTKI terdampak banjir agar berlangsung aman, nyaman, dan kondusif. Keberhasilan pemulihan akan terlihat dari kemampuan kampus menyediakan kembali layanan pendidikan bagi mahasiswa serta mendukung dosen dan tenaga kependidikan dalam menjalankan kegiatan akademik.
